Wisata Religius Jogja yang Cocok jadi Tujuan bagi Kaum Muda

Wisata Religius Jogja

Dikenal sebagai pusat budaya dan kota pelajar, Jogja memiliki banyak ragam tujuan wisata pendidikan dan sejarah.

Namun dibalik itu semua, kota ini juga menyimpan tujuan wisata religius jogja yang bisa dijadikan alternatif kunjungan kesana untuk melihat sejauh mana sejarah perkembangan sisi religi dan akulturasi kebudayaan yang ada di sana. Beberpa tujuan wisata religius jogja berikut ini bisa dicoba.

 KAMPUNG KAUMAN dan Masjid Kauman, Pesona Perjuangan Islam

Desa kecil/kampung Kauman ternyata menyimpan pesona yang hebat, salah satunya adalah adanya perpustakaan Mabulir di Masjid Agung Kauman seluas 13.000 m2.

Perpustakaan ini menyimpan banyak kisah perjuangan dan karya besar beberapa tokoh Islam terkemuka di Indonesia.

Di ujung jalan Malioboro, Anda akan tiba di persimpangan. Sebagian besar dari mereka lebih suka pergi langsung ke area Istana Sultan; namun sebenarnya ada pesona tersembunyi di daerah tersebut, yaitu desa Kauman. Area yang akan Anda temui tersebut melewati K.H. Jalan Ahmad Dahlan, dan masuk gerbang di sisi kiri.

Baca juga: Liburan Sambil Belajar di Wisata Pendidikan Jogja

Kauman adalah sebuah desa di mana pemimpin Muslim diberi wewenang oleh kerajaan untuk menangani urusan agama. Sejak tahun lalu, desa ini telah memainkan peran utama dalam hal gerakan keagamaan Islam.

Selama masa perjuangan kemerdekaan, inilah tempat berdirinya gerakan Islam Muhammadiyah. Pada saat itu, seorang Muslim bernama K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendiri gerakan itu memprihatinkan kehidupan masyarakat yang terjebak ke dalam hal-hal mistis.

Selain itu, K.H. Ahmad Dahlan juga menyempurnakan arah Mekah 24 derajat ke arah barat laut (ke arah Masjid al Haram di Mekkah).

Gerbang melengkung akan menyambut siapa saja yang memasuki desa Kauman. Bentuk lengkungan adalah salah satu karakteristik bangunan Islam yang banyak dipengaruhi oleh budaya Timur Tengah.

Di atas gerbang, ada penggambaran lingkaran hijau dengan sinar matahari kuning yang menyinari 12 sinar di dalamnya. Gambar ini sekarang digunakan sebagai simbol organisasi Muhammadiyah dan institusi lain di bawah naungannya.

Masuk ke kampung Kauman harus dilakukan dengan berjalan kaki. Gang-gang kecil sengaja dirancang sedemikian rupa sehingga kendaraan akan sulit masuk.

Rancangan ini dimaksudkan untuk mencegah kebisingan mengganggu para santri (siswa dari lembaga-lembaga Islam) untuk belajar dan itu adalah perwujudan filsafat kesetaraan di Kauman dimana setiap orang yang masuk ke wilayah tersebut diwajibkan untuk meninggalkan status sosialnya dengan berjalan kaki.

Di kedua sisi gang, Anda akan melihat berbagai bangunan dengan arsitektur yang berbeda. Sebuah rumah kuning berfungsi sebagai toko ritel berdiri dekat dengan gerbang.

Rumah memiliki jendela besar, pintu dan kamar, dan ventilasi dihiasi dengan kacamata warna yang menunjukkan pengaruh arsitektur Eropa. Berjalan ke ujung sekutu dan berbelok ke kanan, Anda akan melihat sebuah rumah putih dengan jendela dan doorframes warna coklat.

Disana juga ada monumen yang didedikasikan untuk penduduk Kauman yang meninggal selama perjuangan kemerdekaan mereka. Kata ‘syuhada’ menunjukkan bahwa komunitas Kauman menganggap pahlawan meninggal sebagai martir.

Sekolah menengah yang telah beroperasi sejak 1919 juga ditemukan di kampung ini. Awalnya, sekolah itu bernama Hooge School Muhammadiyah dan kemudian diubah menjadi Kweek School pada tahun 1923.

Sekolah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan dibagi menjadi dua pada tahun 1930; satu untuk laki-laki dan yang lainnya untuk siswa perempuan. Sekolah anak laki-laki diberi nama Mualimin sedangkan yang untuk anak perempuan diberi nama Mualimat.

Bangunan paling terkenal di kompleks Kauman adalah Masjid Agung. Bangunan ini terdiri dari bangunan utama, beranda dan halaman total seluas 13.000 m2. Bangunan serambi dibedakan dari bangunan utama.

Masjid Agung Kotagede, Yogyakarta – Indonesia

 Kotagede adalah salah satu kota tua di Jogjakarta. Dulunya, Kotagede adalah ibu kota Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Sultan Agung. Banyak warisan bersejarah dapat ditemukan di sana. Salah satu bangunan peninggalannya adalah Masjid Agung Kotagede. Bangunan ini adalah masjid tertua di Jogjakarta.

Masjid Kotagede dibangun dibangun bersama dengan komunitas lokal yang sebagian besar beragama Hindu dan Budha. Jadi tidak heran ketika masjid juga dipengaruhi oleh gaya Hindu dan Buddha.

Sangat menarik ketika Anda memasuki suasana tenang di tempat ini. Di halaman masjid Anda dapat menemukan pohon beringin tua yang telah mencapai ratusan tahun. Namanya ” Wringin Sepuh ” yang berarti ” banyan tua ”.

Masyarakat menganggap bahwa pohon itu sebagai pembawa berkah. Anda juga dapat menemukan parit yang mengelilingi masjid. Di masa lalu, parit digunakan sebagai tempat wudhu. Namun sekarang digunakan sebagai tambak ikan.

Di tengah-tengah bangunan adalah limasan (bangunan Jawa seperti berbentuk piramida) terlihat terbagi menjadi dua, yaitu teras dan serambi.

Di luar masjid Anda dapat menemukan Bedug tua (drum besar yang tergantung secara horizontal di masjid yang ditabuh sesaat sebelum adzan dikumandangkan). Bedug tua ini tak kalah dengan masjid. Dulunya bedug ini adalah hadiah dari Nyai Pringgit. Hingga saat ini, masih terdengar drum sebagai penanda waktu sholat.

Memahami wisata religius jogja diatas akan membuat kita kagum akan beragamnya akulturasi budaya dan religius di kota pelajar tersebut.

Facebook Comments

Please rate this